Blog Post

News from us
08 August 2019

Scary Stories To Tell In The Dark: Semuanya Hanya Cerita Biasa, Sampai Ajal Menjemputmu!

Radio UNTAR – Kamis (08/08/19). Percayakah kamu dengan cerita yang ditulis berdasarkan kisah hidupmu lalu kehidupanmu akan berakhir sama persis seperti apa yang ditulis dalam cerita tersebut? Sebaiknya kamu percaya! Film Scary Stories To Tell In The Dark karya sutradara André Øvredal dan produser ternama Guillermo del Toro dan kawan-kawan merupakan film adaptasi dari serial buku yang berjudul sama yang dirilis pada tahun 1981 sampai dengan tahun 1991 yang menceritakan banyak sekali monster.

Film ini mengisahkan tentang sekelompok remaja yang terdiri atas Stella Nicholls (Zoe Colletti), Ramon Morales (Michael Garza), August “Auggie” Hilderbrandt (Gabriel Rush) dan Chuck Steinberg (Austin Zajur) tidak sengaja menemukan buku dari sebuah rumah tua yang dahulu dihuni oleh keluarga Bellows pada saat malam Halloween. Tidak disangka bahwa buku tersebut membawa petaka bagi mereka yang masuk ke dalam rumah tersebut. Kakak perempuan Chuck yang bernama Ruth Steinberg (Natalie Ganzhorn) dan pacarnya yang bernama Tommy Milner (Austin Abrams) juga ikut terseret dalam kutukan cerita horor yang mematikan tersebut. Satu persatu cerita diri mereka mulai tertulis dan kengerian pun dimulai.

 

Film ini mengambil latar tahun 1960-an sehingga penonton dapat bernostalgia dengan film horor klasik meski tidak seklasik serial Stranger Things. Film ini berfokus pada empat monster yaitu Harold The Scarecrow, The Toe Monster, The Pale Lady dan Jangly Man. Masing-masing memiliki keunikannya sendiri dan dari keempat monster tersebut dapat dikatakan bahwa Harold The Scarecrow adalah monster yang paling menyeramkan. Mungkin karena sudah banyak film horror yang menggunakan orang-orangan sawah sebagai monster atau hantunya seperti Husk (2011) dan Messengers 2: The Scarecrow (2009). The Pale Lady juga memberikan porsi kengerian yang pas karena bentuk muka yang aneh dan tidak bicara sepatah kata pun. Adegan The Pale Lady dapat menghipnotis penonton untuk diam sejenak dalam beberapa menit lalu membayangkan wajahnya menghadirkan rasa takut tersendiri.

 

Alur cerita yang disajikan tidak terlalu rumit sehingga penonton juga dapat mengikuti film ini dengan mudah. Meskipun alurnya mudah diikuti, terdapat beberapa bagian yang terasa kurang penting seperti saat Stella, Ramon, Chuck dan Ruth berdebat mengenai kutukan buku cerita Sarah. Terdapat pula bagian yang penting tetapi tidak dieksplorasi lebih dalam lagi yakni masa lalu Sarah Bellows beserta keluarganya. Terdapat pula CGI pada monster Jangly Man yang kurang realistis tetapi tertolong dengan beberapa jumpscare yang dilakukan oleh dirinya dan suaranya yang cukup menyeramkan ditambah musik yang dapat membuat jantung berdebar-debar. Dibanding dengan film-film horor lainnya yang melibatkan Guillermo del Toro yakni Mama (2013), The Orphanage (2007) dan Don’t Be Afraid of The Dark (2010), Scary Stories To Tell In The Dark belum bisa menyaingi ketiga film tersebut. Film ini juga tidak seseram The Autopsy of Jane Doe (2016) yang juga merupakan hasil sutradara André Øvredal.

 

 

Terdapat satu pelajaran penting yang dapat diambil melalui kisah hantu utama film ini yaitu setiap orang dapat belajar dari kisah atau cerita tentang seseorang. Kamu akan mengetahui betapa pentingnya peran word of mouth dan media massa yang menyiarkan berita hoax sehingga dapat merugikan satu pihak yang ternyata tidak bersalah. Cerita dapat membuat diri seseorang menjadi dikenang, tetapi entah itu kebaikan atau keburukan, semua tergantung dari cerita yang disiarkan.

 

Film ini dapat menjadi tontonan yang seru untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman sesama pecinta film horor. Jangan lupa siapkan beberapa makanan ringan untuk menemani kamu di dalam studio. Scary Stories To Tell In The Dark sudah tayang di bioskop-bioskop kesayangan kamu mulai tanggal 7 Agustus 2019! (MSTE)

|

Leave a Reply

W-P-L-O-C-K-E-R-.-C-O-M