Blog Post

News from us
04 October 2018

Festival Film Indonesia 2018: Mencari Mahakarya, Batasnya Hanya Kualitas

Radio Untar – Kamis (04/10/2018). Pada tanggal 1 Oktober 2018, Radio Untar menghadiri Malam Launching Festival Film Indonesia 2018 di Bioskop Metropole XXI, Jakarta Pusat.

Festival Film Indonesia pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 dan masyarakat bisa melihat pencapaian terbaik hasil karya pekerja film tanah air selama setahun terakhir melalui penghargaan yang diberikan. Mulai tahun ini, Festival Film Indonesia (FFI) akan memasuki babak baru yang semula merupakan program penghargaan tahunan menjadi sebuah entitas yang beroperasi sepanjang tahun dan berfokus pada usaha meningkatkan kualitas film Indonesia untuk memperkuat sisi budaya dan estetika film.

Telah terbentuk pula Komite FFI dengan masa kerja tiga tahun yaitu mulai tahun 2018 sampai tahun 2020 melalui Surat Keputusan Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia. Komite FFI diketuai oleh Lukman Sardi yang juga pada Malam Launching memberikan kata sambutan. Lukman Sardi mengatakan bahwa untuk mencari tema dari FFI tidak mudah, tidak bisa hanya satu atau dua hari saja, oleh karena itu mereka mencari Mahakarya. Tujuan utamanya adalah kualitas, mereka meng-encourage untuk mencari mahakarya. Oleh karena itu muncul tema: Mencari Mahakarya, Batasnya Hanya Kualitas.

 

Pada malam launching Festival Film Indonesia, beberapa perwakilan dari lembaga-lembaga lain yang juga bekerja sama dalam peluncuran Festival Film Indonesia juga memberikan kata sambutan.

Sambutan oleh Ketua Badan Perfilman Indonesia: Triawan Munaf

Sambutan oleh Badan Perfilman Indonesia yang diwakili oleh Wakil Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia: Dewi Umaya

Sambutan oleh Sekretaris Jendral Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia: Didik Suhardi Ph.d

Festival Film Indonesia 2018 pun resmi dibuka dengan pemukulan gong.

“Sebagaimana entitas yang berfokus dan bertanggung jawab dalam peningkatan kualitas, keberhasilan Komite FFI hanya dapat dicapai melalui kolaborasi keahlian dan sumber daya dengan entitas dan pemangku kepentingan lain. Dalam penyelenggaraan program penghargaan Piala Citra, misalnya, kami merangkul mulai dari Pusbang Film, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Lembaga Sensor Film (LSF), Badan Perfilman Indonesia (BPI), asosiasi profesi, komunitas, lembaga pendidikan, dan media. Semua program FFI pun akan dibiayai bersama oleh semua unsur pemerintah serta mitra swasta yang mempunyai perhatian dan kepentingan sama,” jelas Lukman Sardi.

Konferensi Pers juga diadakan untuk menjelaskan program FFI dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar FFI. Pada FFI 2018 akan dilanjutkan beberapa perbaikan seperti pada kategori film panjang, film yang akan dinikai sudah harus memiliki Surat Tanda Lulus Sensor oleh Lembaga Sensor Film. Selain itu, penjurian menjadi aspek yang penting karena menjadi sebuah sistem yang mampu menetapkan secara tepat film dan kerja artistik yang dijadikan tolok ukur pada masanya. Terdapat tiga kriteria yang dijadikan sebagai dasar penilaian yaitu gagasan dan tema, kualitas estetika, serta profesionalisme.

Penetapan nominasi dilaksanakan melalui rekomendasi asosiasi profesi dan komunitas. Tahapan penjurian akan berlangsung mulai tanggal 2 sampai 25 Oktober 2018. Pengumuman nominasi direncanakan tanggal 6 November 2018. Selanjutnya pemenang Piala Citra FFI 2018 diumumkan dalam Malam Anugerah yang akan diselenggarakan pada bulan Desember 2018. Seluruh proses penjurian dilakukan di bawah pengawasan konsultan publik independen yaitu Deloitte Consulting.

Sobat Muda, penasaran kan kira-kira Festival Film Indonesia 2018 akan seperti apa sih? Kita doakan yang terbaik semoga Festival Film Indonesia 2018 dapat berjalan dengan baik dan lancar sampai tahun 2020 ya! (FA)

|

Leave a Reply

W-P-L-O-C-K-E-R-.-C-O-M