Blog Post

News from us
29 November 2018

Aksi Perampokan Para Janda Dalam Film Widows

Radio Untar – Kamis(29/11/2018) Widows adalah sebuah film bergenre aksi, kriminal, drama persembahan dari rumah produksi 20th Century Fox yang disutradarai oleh Steve McQueen (12 Years a Slave) serta Gillian Flynn (Gone Girl) hadir sebagai penulis skenario. Widows dibintangi oleh Viola Davis, Michelle Rodriguez, Elizabeth Debicki, Cynthia Erivo, Colin Farrell, Brian Tyree Henry, Daniel Kaluuya, Garrett Dillahunt, Carrie Coon, Jacki Weaver, Jon Bernthal, Manuel Garcia-Rulfo, Robert Duvall, dan Liam Neeson. Film dengan anggaran sekitar 42 juta US$ diproduseri oleh peraih Academy Award Iain Canning, Emile Sherman, dan Arnon Milchan. Tim produksi film ini juga didukung oleh editor peraih nominasi Academy Awards Joe Walker (12 Years a Slave), desainer produksi peraih Academy Award Adam Stockhausen (The Grand Budapest Hotel), direktur fotografi Sean Bobbit (12 Years A Slave), dan desainer kostum Jenny Eagan (Beasts of No Nation).

Diadaptasi dari serial televisi ITV tahun 1983 karya Lynda LaPlante, Widows dibuka dengan adegan kekerasan yang menunjukkan bahwa terjadi kesalahan dalam suatu pencurian. Setelah adegan kejar-kejaran mobil yang menegangkan (yang selalu disorot dengan sangat baik di sepanjang film ini) malam itu Harry Rawlings (Liam Neeson) bersama ketiga temannya berhasil mencuri uang senilai 2 juta US$ dari Jamal Manning (Brian Tyree Henry). Saat memasuki gudang untuk mengganti mobil, ternyata polisi sudah mengepung dan menyerbu lokasi tersebut sehingga terjadi adegan baku tembak dan ledakan yang menyebabkan tewasnya rombongan perampok tersebut tanpa meninggalkan apapun. Manning bukan hanya seorang bos penjahat, dia saat ini mencoba untuk melindungi dirinya dengan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di area tersebut bersaing Jack Mulligan (Colin Farrell), putra dari anggota legislatif sebelumnya, Tom Mulligan (Robert Duvall).

Peristiwa tersebut meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi para janda yang diperkenalkan dengan sangat baik di pemakaman oleh sutradara Steve McQueen. Mereka adalah istri Harry Rawlings, Veronica (Viola Davis) yang hidup di apartemen mewah, Alice (Elizabeth Debicki) istri dari karakter yang diperankan oleh Jon Bernthal dan mengalami kekerasan dari ibunya tetapi tahan banting, dan Linda Perelli (Michelle Rodriguez), yang berjuang untuk membesarkan dua anaknya serta menjalankan bisnis tanpa kehadiran suaminya. Manning sangat membutuhkan uang tersebut untuk membiayai kampanye pencalonan dirinya sebagai anggota legislatif. Oleh sebab itu, Manning mendatangi janda Harry, Veronica dan memberitahu bahwa ia hanya punya waktu 1 bulan untuk mengembalikan uang yang telah dicuri oleh suaminya. Dengan hanya berbekal buku catatan milik Harry, Veronica mempelajari dengan sangat detail bagaimana merencanakan pencurian berikutnya. Veronica segera menghubungi janda lainnya dan mengadakan pertemuan. Dengan bantuan Belle (Cynthia Erivo), mereka menjadi tim yang sangat solid dan membutuhkan waktu selama kurang lebih 3 bulan untuk menjalankan aksi perampokan sekaligus menunjukkan bahwa mereka tidak takut dengan ancaman Manning.

Berbeda dengan serial aslinya yang menggunakan kota London, syuting film Widows kali ini dilakukan di Chicago. Bukan tanpa alasan McQueen memilih Chicago sebagai lokasi syuting, hal ini karena Chicago dianggap memiliki masalah-masalah kompleks yang harus diselesaikan. “Chicago menunjukkan berbagai hal yang menarik bagi saya,” kata McQueen. “Politik, rasial, agama, kepolisian dan kriminalitas dan bagaimana semua hal ini terdapat di setiap sudut kota dan saling terhubung satu sama lain.”

Sejak film dimulai, McQueen berusaha membuat penonton fokus untuk memerhatikan setiap detail adegan Widows karena tempo film ini berjalan sangat cepat. Ketegangan selalu muncul dari awal hingga akhir film, tetapi juga semacam surga bagi cinephiles. Selain ketegangan, film ini mengetuk sisi emosional penonton melalui chemistry yang sangat intim antara Liam dan Viola. Hal ini terlihat lebih menarik karena menunjukkan hubungan erat antara pasangan yang berbeda ras. McQueen kembali berkolaborasi dengan sinematografer terkenalnya Sean Bobbitt untuk menunjukkan hasil yang menakjubkan, termasuk dua kali pengambilan yang benar-benar mengejutkan baik dalam eksekusi maupun pengaruhnya. Sesungguhnya, tidak ada momen yang terbuang dalam Widows — setiap shot, setiap tampilan, dan setiap kata terasa sangat penting dan bermakna. Pengenalan tokoh dan alur cerita disajikan dengan sangat unik dan menarik sehingga penonton sangat mudah untuk mengikuti.

Widows tidak hanya memberikan suasana thriller langsung yang luar biasa, tetapi juga dibungkus plot twist yang tak terduga. Pada dasarnya ini merupakan film tentang kekacauan yang dilakukan pria, dan wanita yang ditinggalkan (atau dipaksa) untuk membereskan kekacauan tersebut. Film seperti menjelaskan alasan mengapa diisi dengan sekumpulan aktris yang luar biasa, dan mengapa ini adalah kisah tentang wanita, bukan pria, yang melakukan pencurian. Para janda itu tidak hanya menghadapi hal yang mengerikan, tetapi juga kurangnya keyakinan bahwa apakah mereka dapat meloloskan diri dari masalah seperti ini. Mereka adalah istri. Umumnya perempuan mengambil uang dan membelanjakannya sementara para pria melakukan semua pekerjaan kotor, tetapi tidak di film ini. Film ini ingin mewakili suara perempuan tentang pemberdayaan dan kesamaan, memberi mereka hak akan suatu pilihan, serta mengungkapkan kehidupan batin yang kompleks sementara suami mereka sibuk mengacaukan segalanya. Di atas semua itu, McQueen menggali isu-isu yang berkaitan dengan Chicago politik, kekerasan, korupsi, dan bahkan kapitalisme. Isu-isu tersebut merupakan sajian menarik untuk menikmati sebuah film.
Sangat menarik melihat aksi para janda yang bukan siapa-siapa bertranformasi menjadi kumpulan perampok yang lihai. Nah buat sobat muda yang penasaran, Widows rilis serentak di seluruh bioskop di Indonesia mulai tanggal 7 Desember 2018! (DN)

Leave a Reply

W-P-L-O-C-K-E-R-.-C-O-M